Sunday, March 3, 2013

Teori-teori Motivasi

      Sobat pembaca, proses motivasi diarahkan untuk mencapai tujuan. Tujuan yang ingin direalisasikan dipandang sebagai kekuatan (power) yang menarik individu. Tercapainya tujuan sekaligus dapat mengurangi kebutuhan yang belum dipenuhi. Terdapat beberapa teori motivasi dan hasil penelitian yang berusaha mendeskripsikan hubungan antara perilaku dan hasilnya. John P. Campbell, dkk. di dalam H. B. Siswanto (2009: 128), mengelompokkan teori motivasi menjadi tiga kelompok teori, yakni sebagai berikut: 
  • Teori Kepuasan (content theories). Pendukung teori kepuasan adalah sebagai berikut:
Teori Motivasi
  1. Teori Hierarki Kebutuhan. Menurut Abraham H. Maslow Hierarki kebutuhan yang paling tinggi adalah fisiologis (physiological needs) karena kebutuhan ini merupakan kebutuhan yang paling kuat sampai kebutuhan tersebut terpuaskan. Sedangkan hierarki kebutuhan yang paling rendah adalah kebutuhan aktualisasi diri (self actualization needs). Hierarkhi kebutuhan tersebut secara lengkap meliputi lima hal berikut: 1) Kebutuhan fisiologis (physiological needs). Kepuasan kebutuhan fisiologis biasanya dikaitkan dengan uang. Hal ini berarti bahwa orang tidak tertarik pada uang semata, tetapi sebagai alat yang dapat dipakai untuk memuaskan kebutuhan lain. Termasuk kebutuhan fisiologis adalah makan, minum, pakaian, tempat tinggal dan kesehatan; 2) Kebutuhan keselamatan atau keamanan (safety or security needs). Kebutuhan keselamatan atau keamanan dapat timbul secara sadar atau tidak sadar. Orientasi ketidak sadaran yang kuat kepada keamanan sering dikembangkan sejak masa kanak-kanak. Yang termasuk kebutuhan ini adalah kebebasan dari intimidasi baik kejadian atau lingkungan; 3) Kebutuhan sosial atau afiliasi (social or affiliation needs). Yang termasuk kebutuhan ini adalah kebutuhan akan teman, afiliasi, interaksi dan cinta; 4) Kebutuhan penghargaan atau rekognisi (esteems or recognation needs). Motif utama yang berhubungan dengan kebutuhan penghargaan dan rekognisi, yaitu sebagai berikut: Gengsi/ harga diri (prestige),  Kekuasaan (power); 5) Kebutuhan aktualisasi diri (self actualization needs). Kebutuhan untuk memenuhi diri sendiri dengan penggunaan kemampuan maksimum, keterampilan dan potensi.
  2. Teori Dua Faktor Menurut Frederick Herzberg Dua faktor mengenai motivasi yang dikembangkan oleh Frederick Herzberg di dalam H. B. Siswanto (2009: 129) adalah faktor yang membuat individu merasa tidak puas (dissatisfied) dan faktor yang membuat individu merasa puas (satisfied). Kesimpulan yang dihasilkannya yakni pertama, terdapatnya serangkaian kondisi ektrinsik, keadaan pekerjaan yang menyebabkan rasa tidak puas diantara para bawahan apabila kondisi tersebut tidak ada. Apabila kondisi tersebut ada, hal itu tidak perlu memotivasi bawahan. Kondisi tersebut adalah faktor-faktor yang membuat invidu merasa tidak puas karena faktor-faktor tersebut diperlukan untuk mempertahankan hierarki yang paling rendah, yaitu tingkat ketidak adanya ketidak puasan. Kedua, serangkaian kondisi intrinsik kepuasan pekerjaan yang apabila terdapat dalam pekerjaan akan menggerakkan tingkat motivasi yang kuat sehingga dapat menghasilkan kinerja pekerjaan yang baik. Apabila kondisi tersebut tidak ada, kondisi tersebut ternyata tidak menimbulkan rasa ketidakpuasan yang berlebihan. Serangkaian faktor tersebut disebut satisfied. 
  3. Teori Kebutuhan. Menurut David C. McClelland Teori motivasi dari David C. McClelland di dalam H. B. Siswanto (2009: 130) dihubungkan dengan konsep belajar. Oleh karena itu, banyak kebutuhan yang diperoleh dari kebudayaan yakni: 1) Kebutuhan akan kinerja (needs for achievement, disingkat n-Ach); 2) Kebutuhan akan afiliasi (needs for affiliation, disingkat n-Aff); 3) Kebutuhan akan kekuasaan (needs for power, disingkat n-Pow) Saran khusus yang diberikan oleh mcClelland adalah mengenai pengembangan kebutuhan akan kinerja yang positif tinggi yaitu n-Ach yang tinggi, ketika tidak ada ketakutan akan sukses. Sarannya meliputi hal-hal sebagai berikut: 1) Individu mengatur tugas sedemikian rupa sehingga mereka menerima umpan balik secara berkala atau hasil karyanya. 2) Individu hendaknya mencari modal kinerja yang baik, pahlawan kinerja individu yang berhasil, dan pemenang serta menggunakan mereka sebagai teladan; 3) Individu hendaknya memodifikasi citra diri mereka sendiri; 4) Individu hendaknya mengendalikan imajinasi, berpikir secara realistis dan positif mengenai cara mereka merealisasikan tujuan yang diharapkan.
  • Teori Proses (process theory). Teori proses mendeskripsikan dan menganalisis bagaimana perilaku dikuatkan, diarahkan, didukung, dan dihentikan. Tiga teori proses yang merupakan karya dari Victor H. Vroom di dalam H. B. Siswanto (2009: 130) mendeskripsikan pada bagian berikut: 
  1. Teori Harapan (Expectancy theory). Dalam suatu organisasi, setiap individu memiliki harapan usaha kinerja. Harapan tersebut menunjukkan persepsi individu mengenai sulitnya mencapai perilaku tertentu dan mengenai kemungkinan tercapainya perilaku tersebut. 
  2. Teori Keadilan (Equity theory). Teori ini menekankan bahwa bawahan membandingkan usaha mereka dan imbalan mereka dengan usaha dan imbalan yang diterima orang lain dalam iklim kerja yang sama. Dasar dari teori motivasi ini dengan dimensi bahwa individu dimotivasi oleh keinginan untuk diperlakukan secara adil. Dalam pekerjaan, individu bekerja untuk memperoleh imbalan. 
  3. Teori Penguatan (reinforcement theory). Penguatan merupakan prinsip belajar yang sangat penting. Tanpa penguatan tidak akan terjadi modifikasi perilaku yang dapat diukur. Para manajer seringkali menggunakan pengukuh positif untuk memodifikasi perilaku. Dalam banyak hal pengukuh bekerja sesuai dengan diprakirakan sebelumnya. Adapun dalam hal ini pengukur tidak memodifikasi perilaku dalam arah yang diinginkan karena terdapatnya kemungkinan penguatan yang berkompetisi. Apabila penguat tersebut tidak disatukan pada perilaku yang diinginkan oleh manajer, perilku yang diinginkan tidak akan terjadi. Demikian pula apabila pengukuh baru diberikan jauh sesudah terjadinya perilaku yang diinginkan, kemungkinan terjadi perilaku yang diinginkan menjadi berkurang. Penguatan negatif berhubungan dengan bertambahnya frekuensi respons yang timbul sesudah disingkirkannya pengukuh negatif, segera setelah ada respons. Suatu kejadian merupakan pengukuh negatif hanya apabila kejadian tersebut disingkirkan sesudah suatu respon menaikkan penampilan dari suatu respons.

8 comments:

  1. makasih informasinya... isi dari blog ini sangat membantu saya dalam menyelesikan tugas kuliah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Maaf Sob, baru bisa balas..
      Sama-sama Sob..
      Jangan pernah jenuh berkunjungnya ya..
      Salam..

      Delete
  2. Replies
    1. Sama-sama Sob..
      Thanks kunjungannya..
      Salam..

      Delete
  3. Replies
    1. Makasih Sob,..
      Jujur bahwa apa yang tersaji dalam post di atas masih belum lengkap.. Kunjungan Sobat sangat membantu dalam melengkapinya..
      Salam..

      Delete
  4. Thnks Gan Atas Infonya ,,,, nice day gan

    ReplyDelete
  5. informasi yang di sajikan mantap gan! thank

    ReplyDelete