Thursday, January 17, 2013

Rasa Yang Tersakiti


Sobat semua, puisi adalah salah satu alat komunikasi tidak langsung yang bisa sampaikan oleh siapa saja serta dengan kondisi yang tidak terikat. Sekalipun tidak cukup pengalaman dalam mengarang puisi, kali ini Kreasi Kita mencoba membagikan kepada sobat semua sebuah puisi dengan berjudul “Rasa Yang Tersakiti”. 


Rasa Yang Tersakiti

Demi Tuhan, saya tidak begitu yakin dengan rasa ini,
Rasa yang selama itu tidak pernah terbersit dalam alam pikirku,
Keyakinanku akan dirimu, melebihi dari apapun,
Terlalu dini untuk disayangkan atas kondisi yang telah terkuak,

Demi Tuhan, jangan biarkan hal itu merajaimu,
Banyak hal yang harusnya dipertimbangkan,
Dan lagi-lagi jebakan itu akhirnya menguasaimu,
Engkaupun berlalu begitu saja,
Biarkan mengalir, itu adalah prinsipmu,
Namun, saya ragukan hal itu,

Demi Tuhan, Tenangkan dirimu,
Ketakutan menutupi semua energi didalam dirimu,
Bernafaslah sekejap sembari berpikir,
Satu helaan akan berdampak baik jika ada keseriusan,
Mulai dari yang termudah hingga yang tersulit,
Cobalah untuk bertahan,

Demi Tuhan, pergilah jika itu keputusanmu,
Penyanjung kebebasan adalah aliran darahku,
Jangan engkau berpaling seperti yang sudah-sudah,
Yakinlah, dikejauhan senandung lirih akan dilantunkan oleh desir angin,
Dan tidak ada lagi penantian seperti yang terlewati,
Biarlah terkubur dalam keheningan malam.


Semoga ini bermanfaat buat sobat pembaca, dan tentunya Kreasi Kita selalu menunggu respon dari sobat demi penyempurnaan puisi ini dan sebagai referensi dalam mengarang puisi kedepan. Terimakasih banyak atas kunjungannya.

Wednesday, January 16, 2013

Masyarakat, Pemerintah dan Proyek Pembangunan




      Akhirnya dapat ide juga untuk menulis. Hai sobat blogger, saya sedikit berkisah soal perjalanan ke sebuah kecamatan di Pulau ku.. Maklumlah, untuk menyambung hidup mau tidak mau harus meninggalkan kampung dan menetap disana. Setiap minggu saya pulang untuk bertemu keluarga besarku.
     Ops, saya lanjutkan lagi kisahnya. Dalam menyusuri jalan menuju tempat saya bekerja, banyak fenomena yang dapat dilihat oleh mata. Terlebih ketika sudah mendekati atau kurang lebih 20 kilometer lagi. Jalan yang disediakan oleh pemerintah sungguh sangat memprihatinkan. Sangatlah tidak layak untuk dinamakan sebagai jalan menuju sebuah kecamatan.
      Pernah ada proyek pembangunan dijalan tersebut beberapa bulan yang lalu. Ada sebuah ruas jalan yang sangat terjal dibanding dengan jalan yang lain, dan itulah yang diutamakan untuk direhab. Pembangunan pun dijalankan dan berjalan seperti yang diharapkan. Diharapkan oleh siapa, saya tidak tau. Saya pikir itu diharapkan oleh pemborong. Kenapa, karena amat disayangkan pembangunan jalan tersebut sangatlah ekspres seperti ketika cetak foto. Jipret langsung cetak.. Hehehe, sory klo istilahnya tidak senonoh.. Dan hasilnya, belum lagi selesai pembangunannya, jalan tersebut mulai menampakkan kesedihannya, batu-batu enggan untuk menempel dijalan tersebut. Mungkin kurang perekat.
      Saya masih diperjalanan Sob menggunakan motor butut hasil keringat, hehehehe... Ketika sampai dijalan yang agak parah saya dikejutkan oleh beberapa pemuda yang mencoba menghentikan dengan membawa sebuah kotak. Yeah, kotak amal.. Mereka membentuk perkumpulan yang kayaknya belum direstui oleh pemerintah setempat dan setidaknya agak membingungkan kalau sudah. Dan itu bukan hanya sekali kejadiannya Sob. Berkali-kali. Seperti biasa, untuk memperbaiki sedikit kerusakan jalan dan meminta dana spontanitas dari siapapun yang melintas. Seraya berkata: “Kesadaran Bang”..
      Bukan karena pelit, maka saya tidak ikhlas Sob. Setengah hati saya bangga karena anak daerah mau memberi perhatian untuk jalanan yang rusak, dan sisanya ketakutanku terjawab sudah bahwa aktivitas seperti itu akan jadi kebiasaan.
      Setelah sampai di tempat bekerja akhirnya saya mencoba menyimpulkan bahwa kejadian diperjalanan tidaklah terjadi jika pemborongnya tidak rakus. Pemborong yang rakus itu akan menjadi normal bila pemerintah juga memberi perhatian serius pada proyek-proyeknya, bukan bekerja sama.
      Nah akhirnya sobat, sesumbar saya ungkapkan bahwa Pemerintahlah yang mengajari masyarakat untuk bertindak ekstrem dalam melanjutkan hidup dan layaknya bertanggungjawab untuk menetralisir kondisi itu.

Monday, January 14, 2013

The Purpose of Writing

The Purpose Of Writing
      Indrawati (2006:6) states that the purpose of writing is to give some information to other people by writing it down. In writing, it can be seen as having six general types of purpose, each type of purpose focusing on one of the parts of the communication model, namely:
  1. Writer: expressive purpose, one may write simply to express one’s feelings, attitudes, ideas, and so on. This type of writing does not take the reader into consideration; instead, it focuses on the writer’s feelings, experience, and needs. Expressive writing may take the form of poetry, journals, letters, and especially, free writing. Often, a person will do expressive writing and then be disappointed when readers do not respond to it.
  2. Reader: cognitive purposes. Cognitive writing seeks to affect the reader. Persuasive writing is cognitive; so is writing intended to entertain the reader. Writing intended to arouse the reader’s feelings is cognitive. Cognitive writing may take obout any form, as long as its intention to persuade the reader of affect the reader emotionally. 
  3. Context: informative purposes. Informative writing refers to something external to the writing itself, with the purpose of informing the reader. For instance, this page is infomative, as are the other components of this Map. In our times, informative writing is usually prose, although in earlier periods poetry was used for informative purposes. 
  4. Message: poetic purposes. Poetic (or literary or stylistic) purposes focus on the message itself in its language, on the way the elements of language are used, on structur and pattern both on the level of phrase and of the overall composition. Poetic writing can be in prose as well as in verse. Fiction has poetic purposes. Anytime one writes with an emphasis on the language is used. One has a poetic purposes. 
  5. Contact: aphetic purposes. Aphetic language (and nonverbal communication) establishes and maintains contact between speakers or between writer and reader. In speaking, for instance, we may greet someonebys saying. “Howya doin?” or ”Hozit goin?” Theses questions are not requests for information. They are intended to establish and maintain friendly contact. Aphetic purposes are not significant in most writing. The use of greetings and closings in letters is one example of aphetic purpose in writing.
  6. Code: Meta linguistic purposes. Comments on a piece of writing are Meta linguistic. If a student attaches a note to an essay to explain why the essay is late, the note is Meta linguistic in relation to the essay. An author’s preface to a book is another example of Meta linguistic purpose in writing.From the statements above it can be concluded that there are six general purpose of writing, such a writer, reader, contex, message, contact and code. It means that there are six purpose always apears in writing

The Benefit of Writing

      Romli (2007:71) says that the benefits of writing whether diary, writing idea even writing popular scientific article and book are:
  1. Self expression. It means that writing is to express feeling, thought, and wishes. Writing becomes as a tool in telling the contect of the heart. 
  2. Self image or Personal Branding, by writing, we can build self image. 
  3. Selft Confident. Good writing wiil build self image of the writer and in its turn building his/her self confident. 
  4. Agent of Change. By writing,we can be as the agent of change. Ideas which are put on written language influences the mind of readers. 
  5. Sharing. Writing is o tool fo sharing experince. 
  6. Profit making. Financial advantage can be gotten through writing. 
  7. Healthy Life writing is good for health. 
  8. Truma Healing.
      Writing is also useful for trauma healing. According to aiqueue (2008:73) the benefits of writing are:
  1. Pragmatic 1) Creating permanent records (e.g., minutes) of verbal exchanges. 2) As an altenative to verbal communication (e.g., e-mail) 
  2. Educational 1) As a technique for imparting ideas (e.g. presentations, books). 2) Learning to write well can also help one to speak and think more effectively. These include improving idea organization, brevity etc. 3) The act of writing in another language also help one lerarn that language. 
  3. Emotional 1) Clarifying the mind (e.g. journaling, and blogging). For some it is like exercise, a necessary daily duty bto oneself. 2) Distilling ideas-the mere transfrence of one’s musings to paper often brings new epiphanies and even modifications to preconceived viewpoints.
      It can be said that trought writing people can record verbal exchanges, clarify mind, distill ideas, impart idea, learn the language, speak and think more effectively.

Defenition of Memorandum

      According to Sharma (2010:1) says that “a memorandum is a written message that provides personnel a quick and convenient way to communicate with each other”. A memorandum is ussualy an internal working paper written to share information and/or instruction among peers, most often those working for the same organization those working together on a common project even though they represent different organizations (Lowlani, 2010:2).
      A memo or memorandum is a type of communication commonly used in business. Memos are sent to colleagues or coworkers. Memo is used as a written reminder or to convey a short proposal or some basic information. A memo format is generally short consisting of between one and four sentences (Franklin, 2006:1).

Types of Memorandum

      According to Sharma (2010:1), there are several kinds of memorandum which can be categorized into two broad types:
  1. Informal memorandum Theses are handwritten memos. They are more commonly used to communicate message related to day activities such as conveying telephone messages, to remain people of something, responding to inquiries, and so on.
  2. Formal memorandum. These are message and appear more formal. Theses are used to respond to formal queries, convey information pertaining to the business such as sales report, suggestions for cost improvements,etc.
      Sharma (2010:3) mentions that there are five basic types of memos request, confirmation, periodic report, ideas and suggestions, and informal studyresult.
  1. Request memorandum Request memo is written with a view to elicit a favorable response. A well-written request memo is one that is able to motivate the reader to take the desired action. The following guidelines have to be followed while writing a request momo: • The request should be cleaerly stated in the memo. • The memo should present the reasons for the request. • Explanation should be given for any financial costs that may be involved. • All expenses should be justified. • The memo should mention the desired action that the reader needs to take. • Tact and diplomacy should be used throughout the memo. 
  2. Confirmation memo A confirmation memo is a written confirmation of what has been agreed to verbally. The following guidelines need to be followed while writing a confirmation memo: • The major point that have been discussed and verbally agreed upon must be specifically mentioned in the memo. • These points need to be enumerated to emphasize them and to enable easy refernce to them in future discussions. • Feedback should be encouraged on points that are not clear or misunderstood. 
  3. Periodic report memo A periodic report memo is used to depict information that needs to be submitted at intervals. Examples of such memos are those that are used to present quarterly sales reports, monthly expenditure reports, etc. The following guidelines need to be followed while developing a periodic report memo: • A periodic report memo should be designet as a fill-in form in which data can be easily entered. • The form should be easy to duplicate and reuse. • Sufficient place should be provided in the memo form to allow the writer to write any comments or remarks, if requered. 
  4. Ideas and suggestions memo Ideas and suggestion memos are used for providing ideas and suggestions when they are asket for. Many times, organizations solicit ideas and suggestions from the employees to tackle certain problems. These may be related to improving inter-personal relations, cost reduction efforts, improving the work environment, etc. The following guidelines should be followed while writing an ideas and suggestions memo: • Do not be too modest in giving suggestiossns. Remember that the organization is seeking your opinion, only because they consider it to be valuable. • Begin the memo by giving positive comments and move on to giving suggestions in a tactful manner. • Group the ideas together under bvarious headings. • Be specific. A well organized ideas and suggestions memo beginds by defening the problem, groups the recommendations under various headings and concludes by indicating how the recommondations can be implemented. 
  5. Informal study result memorandum An informal study result memo is used to present the information obtained from an informal study in an easy to read and understend form. The following guidelines should be followed while writing an informal study result memorandum: • State the purposes of the study at the beginning of the memo. • Present the results and their interpretation under separate heading to allow easy understanding • Adress the issue systematically one after the other. • Write the memo by using informal language.
      From the statement above, the researche concludes that the kinds of memos can be categorized into two board types, such as; informal and formal memos. While the memo is also consisted of five basic types, such as; request, confirmation, periodic report, ideas and suggestion, and informal study results.

Sunday, January 13, 2013

Sepotong Lagu Perjuangan

      Menyelesaikan studi merupakan hal yang ditunggu-tunggu dan juga hal yang menakutkan. Kenapa, karena banyak akivitas yang mau tidak mau harus sobat tinggalkan dikampus. Dan tentunya, kegembiran setelah menyelesaikan juga merupakan hal yang mutlak karena memasuki ruang kampus dan selesai tepat waktu adalah sebuah tujuan dan sebagai tiket untuk bisa bertarung melanjutkan hidup.
       Nah,.. Sobat semua, puisi berikut ini merupakan salah satu persembahan saya waktu menyelesaikan di kampus, dan saya anggap sebagai luapan perasaan dan beberapa pesan moral buat kawan-kawan yang masih bertahan di dalam kampus..


Lirik ini khusus buatmu kawan,
Ketahuilah ini bukanlah kebetulan, atau seonggok pembenaran yang sengaja dihaturkan, Menanggalkan nama “Mahasiswa” merupakan pilihan yang sulit buatku, karena perjuangan kita masih belum dan tidak pernah selesai..
Namun, karena tuntutan hidup yang terus bergulir, dan ketika hati dan pikiran ku ajak berunding, maka keputusannnya adalah aku harus pergi melanjutkan perjuangan diluar sana...

Ketahuilah, menyandang nama “Mahasiswa” merupakan suatu hal yang membanggakan...
Namun tidak berarti bahwakebanggaan itu dijadikan alasan untuk diam terhadap kondisi-kondisi sosial yang tidak kita inginkan...
Terus bergerak, berjalan bersama dan bergandengan tangan dalam menjalaninya...

Maafkan manakala harus meninggalkan kerumunan kawa-kawan,
Maafkan juga manakala harus menyerahkan tanggungjawab ini kepada kawan-kawan yang masih bertahan, 
Dan maafkan bila aku harus berucap: “Maafkan”, karena aku tahu bahwa dalam perjuangan tidak memerlukan kata itu melainkan pembuktian..

Akhirnya aku hanya mampu katakan bahwa selamat menikmati kepada kawan-kawan juang yang terikat dan terpengaruh atau yang ikut serta dalam sistem yang tidak memihak kepada rakyat kampus...
Tetaplah bertahan kawan ketika engkau bertahan karena tujuan untuk membuat perubahan...

The Functions of Writing

      Florio and Clark (1982:115) mention the four functions of writing which are identified in the classroom, such as: writing to participate in community, writing to know oneself and others, writing to occupy free time, and writing to demonstrate academic competence.
The Functions Of Writing
      The statement above can be concluded that the function of writing is to participate with other to know others, writing to accupy free time, and to demonstrate academic competence.

The Defenition of Writing

The Defenition Of Writing
      Writing is one the four basic skills in teaching and learning which must be mastered by the the students and taught well by the teachers. Writing is a language in printed form; it is used to convey information about something and to express idea. Writing is also a system of intercommunication by means of conventional visible marks. Hartfiel, (1985:1) say: “Writing is the primary means for conveying information, ideas, beliefs, and impressions to other when the ideas are too complex to express orally, when face to face is not possible or when a permanent form of communication is needed.”
      Furthermore, Churchill and friends (2010:1) say the defenitions of writing as follows: a) The act of forming letters and characters on paper, wood, stone, or other material, for the purpose of recording the ideas which characters and words express, or communicating them by visible signs; b) Anything written or printed; c) Anything expresson in characters or letters; any legal instrument, as a deed, a receipt, a bond, an agreement, or the like; d) Any written composition.
      Writing is the graphic counterpart of speech, the fixing of spoken language in a permanent form (Gerrit, 1970:17). It means that writing is aspoken language which is conveyed through written language or symbols. Writing is a thinking process (white,1970:1).
      From the all defenitions of writing above, we can conclude that writing is an act of personal or group which is used to express ideas, thoughts, feeling, message, and information through written language symbols. On the other word, it can be defined that writing is a discovery process ; it involves, ideas discovering how to organize them and discovering what you want to put on your reader.

Saturday, January 12, 2013

The Benefit Of Learning Speaking

      As we are deciding wether we will learn to speak language (english) and another languages we should consider that we are doing more than just learning how to speak english, but we could very well be effectively helping our future as well as our family’s future.
      There been explosion of people who to learn english, learning to speak english really is coming popular. One of the big reasons, so many people desire to learn english is because there are so many people who speak english over the world. Plus when you look at types of benefits to reaped by learning english. It really make the jurney to learn to speak english well worth it speaking english language or another language can be very good benefit to us. Thi’s is because all of them speak english fluently.
      Maybe American, Singapore, Italian, Spanish business owner could have a job opening and which we demostrate how detailed us are when we conduct business and they experience we speaking english, then we could land our dream job! Most jobs love it when we can speak foreign language.
Careers related to fashion usually require english or another foreign language froficiency. This is exceptionally true if the company we would be working with is based in english.
      Additionally, most American Restaurant’s would prefer to hire hospitality workers that speak any foreigners languages. This is because they need to get some one that is flexible in dealing with customers.
It open up door in the educational industry. Many people like the benefits of learning speaking english or another foreigners languages. For examples, we could teach english. The reward of helping some body else experience the joy of mastering another language such as english are hard to diserabe. Plus it doesn’t hurt to earn a handsome wage for your work.
      Professionals who speak more languages are called, for travel and business purposes. Moreover such people also get to use new technologies and ideas. They also get to seek out more opportunities in the community.
      Knowing a second language is definitely a plus a benefit it many ensure better job, a better pay or new opportunities. No metter what benefit, it gives in tangible world, it source.
      A part if business and profession, second languages acquitions opens new doors to a new culture, it ideas and its people learning and speaking a new language make a difference to how we see the people and how the world sees us.

The Purposes Of Learning Speaking

      Speaking is one of the basic skill of english. Which must be mastered by the students. Speaking is used as a tool of communication. People learn to speak english are different purposes. It is not only gives them a competative edge but also gives them new opportunities such as making building new business propect. If we learning foreigner languages speaking as english, and another languages, we get to meet new people and we get know them better. People learning speaking foreign languages also provides new employment opportunities. There are more opportunities for people who are belingual. For example you tend to have greater prospects, if you know another language such as english Spanish or Italian. Moreover, it would be surprising for you to know that people tend to trust those people more who speak their native language.
      You also have a lot of opportunities in the service industry as well. Call centers are always actively looking for people who can speak two are more languages. This means that if you are a student and are looking for a part time job to earn a few money more, learning speaking another language can definitely help you again a competitive edge other looking for the same job. A part from getting to talk to people, it one speaksin native language to a foreign language to a foreigner them it is easy for the foreigner to get comfortable with such a business person.

Monday, January 7, 2013

Claim Token Technorati

      Buat sobat-sobat yang singgah, saya membuat artikel ini untuk verifikasi claim token dari Technorati.. Jadi, mohon dimaklumi kalau isinya kurang memuaskan dan kurang informatif bagi sobat semuanya. Oh iya, saya juga mengharapkan "masukan" dari sobat pembaca demi perbaikan blog "Kreasi Kita" kedepan..
       Sedikit saya bagikan pengalaman saya ma sobat semua dalam proses meng-claim blog hingga mendapat kodenya. Dalam pengisian form, kolom yang harus di isi yakni salah satunya alamat Url blog ma Url feeds. Nah, sudah berulang kali saya isi url blog dengan resthoe.blogspot.com dan url feedsnya resthoe.blogspot.com/atom.xml, namun selalu ditolak.. Saya jadi gusar, maklumlah masih newbie dalam kelola blog, hehehe... Jadi, saya coba baca di blog beberapa sobat yang memuat tentang Technorati.. Hasilnya, siiip bangeet...! Kekurangannya, saya belum mencantumkan "http://" di url dan url feeds yang diminta... Setelah melengkapi form tersebut, barulah dapat kode claim token 6JQNM5TF6ETJ melalui email..
       Akhirnya, thanks banget buat sobat blogger yang memuat tentang cara untuk claim token karena berkat sobat, saya bisa memperoleh kode claim token 6JQNM5TF6ETJ dan tentunya sobat-sobat yang telah berkunjung.. Skali lagi terimakasih atas atensinya.

Sunday, January 6, 2013

Efektifitas

      Efektifitas merupakan kemampuan untuk memilih tujuan yang tepat, dimana pencapaian tujuan haruslah sesuai dengan perencanaan sebelumnya. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia ( 1989,219), Efektif berarti Manjur, mujarab atau dapat membawa hasil.
      Menurut Peter Drucker, dalam buku Manajemen (1984,7) dijelaskan bahwa arti dari “Efektifitas (Effectiveness) adalah : Pengukuran dalam arti tercapainya sasaran atau tujuan yang telah ditentukan sebelumnya. Bila sasaran atau tujuan telah sesuai dengan yang direncanakan atau tujuan telai tercapai sesuai dengan perencanaan sebelumnya dinamakan efektif.
      Sebaliknya, ketika tujuan atau sasaran tidak selesai dengan waktu yang telah direncanakan atau ditentukan, dinamakan tidak efektif. Dalam buku Pengantar Studi Ilmu Administrasi dan Manajemen karangan Drs. Soewarno Handayaningrat (1982,5) H. Emerson mengemukakan bahwa efektifitas adalah kemampuan untuk memilih tujuan yang tepat untuk pencapaian tujuan yang telah ditetapkan, dengan kata lain bahwa seorang pimpinan efektif dapat memilih pekerjaan yang harus dilakukan atau metoda (cara) yang tepat untuk pencapaian tujuan. (Drs. Soewarno Handayaningrat, 15).
      Maka, efektifitas itu lebih menekankan bagaimana menemukan program, tujuan atau pekerjaan atau target yang benar untuk dilakukan sehingga tujuan akhir dapat tercapai lebih maksimal.

Masyarakat Sipil (Civil Society)

      Masyarakat Sipil (Civil Society) merupakan sebuah konsep sebuah masyarakat warga yang beradab, dimana dalam ruang partisipasinya untuk dalam mewujudkan tatanan kehidupan yang lebih baik dari segala sisi pembangunan, ekonomi, sosial kemasyarakatan, hukum, politik dan budaya idealnya mempunyai posisi dan peran yang menentukan.
      Pada konsep ini, masyarakat tidak hanya disiapkan untuk dijadikan sebagai objek atau pengguna (user), namun lebih dari itu, masyarakat harus dijadikan salah satu penentu kebijakan (Decesion Maker) dimana posisi tawarnya (Bargaining Possition) harus berimbang dengan kekuatan pemerintah. Muhammad AS. Hikam dalam bukunya Demokrasi dan Civil Society : (1997, 197) mengemukakan bahwa : “Masyarakat sipil (Civil Society) adalah wilayah-wilayah kehidupan sosial yang terorganisasi dan bercirikan kesukarelaan, keswasembadaan, keswadayaan, kemandirian yang tinggi ketika berhadapan dengan Negara serta adanya keterikatan dengan norma-norma atau nilai-nilai hukum yang diikuti warganya”.
      Menurut Gellner, Membangun Masyarakat Sipil, Prasarat Menuju Kebebasan; (1995, 5) menyatakan bahwa masyarakat sipil merupakan masyarakat yang terdiri atas berbagai institusi non pemerintah yang otonom dan cukup kuat untuk dapat mengimbangi Negara. Adi Suryadi Culla, Masyarakat Madani: (1999, 3) lebih jauh memaparkan bahwa Masyarakat Madani merupakan salah satu dari berbagai pengertian dan istilah lain dari Civil Society.
      Padanan kata yang lain adalah Masyarakat Warga atau Masyarakat Kewargaan, Masyarakat Sipil, Masyarakat Beradab ataupun Masyarakat Berbudaya. Masyarakat sipil (Civil Society) ataupun istilah lain yang telah dipaparkan memberikan sebuah nilai yang berarti terhadap pemaknaan dari masyarakat sipil itu sendiri. Dimana masyarakat sipil mengandung pengertian yang lebih luas meliputi kesadaran akan kemandirian individu maupun kelompok yang melintasi batas-batas Negara maupun kelas-kelas sosial dan bentuk-bentuk primordialisme lainnya.

Thursday, January 3, 2013

Pembelian

      Menurut Kotler (2000: 201) , “Pembelian merupakan suatu kegiatan yang didalamnya terdapat proses yang memuat berbagai langkah yang terjadi secara berurutan sebelum konsumen mengambil suatu keputusan untuk mendapatkan barang/jasa”. Sedangkan Anorga (2004: 413) mengemukakan bahwa, pembelian dapat diartikan sebagai “serangkaian tindakan untuk mendapatkan barang/ jasa melalui pertukaran dengan maksud dipergunakan sendiri atau untuk dijual lagi dengan atau tanpa diproses lebih lanjut sebelumnya”.
      Dalam melakukan pembelian setiap orang memainkan lima peran (Kotler, 2000:202) yaitu sebagai:
  1. Pencetus: seseorang yang pertama kali mengusulkan gagasan untuk membeli suatu produk atau jasa. 
  2. Pemberi pengaruh: seseorang yang pandangan atau sarannya mempengaruhi keputusan. 
  3. Pengambil keputusan: seseorang yang mengambil keputusan untuk setiap komponen keputusan pembelian, apakah membeli, tidak membeli, bagaimana membeli, dan dimana akan dibeli. 
  4. Pembeli: seseorang yang melakukan pembelian yang sesungguhnya.
      Pemakai: seseorang yang mengkonsumsi atau menggunakan produk atau jasa yang bersangkutan. Konsumen membuat banyak keputusan pembelian setiap hari. Oleh sebab itu perusahaan harus dapat mengetahui pembelian konsumen secara rinci untuk menjawab pertanyaan tentang apa yang dibeli konsumen, dimana mereka membeli, dan mengapa mereka membeli. Dengan mengetahui hal-hal tersebut perusahaan dapat menciptakan suatu produk yang bermanfaat dan mudah dijangkau oleh konsumen.

Kualitas Pelayanan

      Menurut Lovelock di dalam Fajar Laksana (2008: 85), mendefenisikan bahwa “kualitas adalah tingkat mutu yang diharapkan, dan pengendalian keragaman dalam mencapai mutu tersebut untuk memenuhi kebutuhan konsumen”. Sedangkan Goetsh dan Davis di dalam http://ibnu.blog.blogspot.com mengemukakan bahwa “kualitas merupakan suatu kondisi dinamis yang berhubungan dengan produk, jasa, manusia, prosos, dan lingkungan yang memenuhi atau melebihi harapan”. Welch di dalam Fajar Laksana (2008: 85) merumuskan bahwa “Kualitas pelayanan merupakan jaminan terbaik kita atas kesetiaan pelanggan, pertahanan terkuat kita dalam menghadapi persaingan asing, dan satu-satunya jalan menuju pertumbuhan dan pendapatan yang langgeng”.
      Dari pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa kualitas pelayanan selalu berfokus pada pelanggan. Jadi, untuk dapat memberikan kualitas pelayanan yang baik maka perlu dibina hubungan yang erat antar perusahaan, dalam hal ini adalah karyawan dengan pelanggan. Berkualitas atau tidaknya pelayanan dalam perusahaan tergantung pada apa yang dipersepsikan pelanggan. Menurut Gronros di dalam http://ibnu.blog.blogspot.com, kualitas pelayanan yang dipersepsikan oleh pelanggan memiliki 3 komponen dasar, yaitu:
  1. Kualitas teknis atau hasil. Apa yang pelanggan terima dalam interaksinya dengan perusahaan jelas sangat penting untuk mereka dan pada penilaian kualitas mereka. Secaa internal hal ini sering dianggap sebagai kualitas penyampaian produk. 
  2. Kualitas fungsional atau yang berkaitan dengan hasil. Selain itu pelanggan juga dipengaruhi oleh bagaimana dia mendapat pelayanan atau bagaimana dia mengalami proses produksi dan konsumsi yang simultan, yang merupakan dimensi lain dari kualitas, yang sangat terkait dengan hubungan pembeli dan penjual,sehingga disebut kualitas fungsional. 
  3. Citra perusahaan. Biasanya penyedia layanan tidak bisa bersembunyi dibalik nama merek. Dalam berbagai kasus pelanggan akan dapat melihat perusahaannya, sumber daya, dan bagaimana pengoperasiannya. Oleh karena itu citra perusahaan atau pribadi merupakan hal terpenting dalam tiap pelayanan.

Jenis-jenis Pelayanan

Pelayanan yang diperlukan manusia pada dasarnya ada dua jenis yaitu:
  1. Layanan fisik yang sifatnya pribadi sebagai manusia.
  2. Pelayanan administrasi yang diberikan oleh orang lain selaku anggota organisasi (organisasi massa atau organisasi negara). 
Dengan jiwa dan falsafah bahwa pelayanan adalah awal dari sebuah pemebelian (bagi pelayan untuk keuntungan) dan pelayanan adalah awal memberdayakan. Perlu dikenali bahwa alur pelayanan dapat dibagi dalam dua bagian yaitu:
  • Pelayanan Internal (bahwa dalam organisasi terdapat proses pelayanan) yang meliputi : 
  1. Pelayanan vertikal, yakni pelayanan dari pimpinan/ manajemen kepada unit atau anggota organisasi. 
  2. Pelayanan horizontal dan diagonal, yakni pelayanan dari unit/ anggota organisasi kepada unit atau anggota organisasi lain.
  • Pelayanan Eksternal, yaitu pelayanan organisasi kepada masyarakat atau di luar organisasi dapat dibedakan menjadi dua, yaitu:
  1. Pelayanan makro/ managerial, yaitu pelayanan dari organisasi kepada masyarakat luas, organisasi yang tampilannya dapat diukur dari kualitas manajemen organisasi yang bersangkutan.
  2. Pelayanan mikro, yaitu pelayanan organisasi kepada masyarakat diluar organisasi yang tampilannya dapat diukur dari kualitas tampilan fisiknya. 
 Jenis-jenis pelayanan yang sesuai dengan pelanggan yaitu sebagai berikut:
  1. Pelayanan sebelum transaksi, pelayanan pada konteks ini meliputi sistem, struktur dan lingkungan operasional yang ditetapkan sebuah organisasi sebelum terjadi transaksi.
  2. Pelayanan saat transaksi, pelayanan pada konteks ini adalah pelayanan yang dirasakan oleh pelanggan selama proses transaksi. 
  3. Pelayanan setelah transaksi, adalah pelayanan yang dinikmati pelanggan setelah transaksi berlangsung, pelayanan pada konteks ini menurut keakuratan dan ketepatan waktu dalam penyelesaian produk layanan.
Layanan umum yang dilakukan oleh siapapun, bentuknya tidak terlepas dari tiga macam, yaitu:
  1. Layanan dengan lisan Layanan dengan lisan dilakukan dengan petugas-petugas dibidang hubungan masyarakat, bidang pelayanan informasi dan bidang-bidang lain yang tugasnya memberikan penjelasan atau keterangan kepada siapapun yang memerlukan.
  2. Layanan melalui tulisan Layanan melalui tulisan ini merupakan bentuk pelayanan yang paling menonjol dalam pelaksanaan tugas, tidak hanya dari segi jumlah tetapi juga dari segi peranannya, apabila kalau diingat bahwa sistem pelayanan pada abad reformasi ini mengemukakan sistem layanan yang serba canggih dalam bentuk tulisan. Pada dasarnya layanan melalui tulisan sangat efesien terutama bagi layanan jarak jauh karena faktor biaya. Agar layanan dalam bentuk tulisan dapat memuaskan pihak yang dilayani, satu hal yang harus diperhatikan ialah faktor kecepatan, baik dalam pengolahan masalah maupun dalam proses penyelesaian (pengetikan, penandatanganan dan pengiriman kepada yang bersangkutan).
  3. Layanan yang berbentuk perbuatan Pelayanan yang berbentuk perbuatan 70-80 % dilakukan oleh petugas-petugas tingkat menengah dan bawah.karena itu faktor keahlian dan keterampilan petugas tersebut sangat menentukan terhadap hasil perbuatan dan hasil pekerjaan.

Pelayanan

      Setiap perusahaan baik kecil maupun besar berusaha merekrut sebanyak mungkin pelanggan sehingga pada akhirnya memperoleh keuntungan sebesar-besarnya dan berhasil tidaknya sesuatu perusahaan tergantung dari pelayanan. Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, manusia berusaha, baik melalui aktivitas sendiri maupun secara tidak langsung melalui aktivitas orang lain. Aktivitas adalah suatu proses penggunaan akal, pikiran, panca indra dan angota badan atau dengan tanpa alat bantu yang dilakukan oleh seseorang untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkan baik dalam bentuk barang maupun jasa.
      Proses pemenuhan kebutuhan melalui aktivitas orang lain yang langsung inilah yang dinamakan pelayanan. Setiap kegiatan dilakukan oleh seseorang tidak lepas dari berbagai motif (daya dorong) dan sikap, yang disebut kegiatan. Motif adalah daya yang timbul dari dalam diri orang yang mendorong orang untuk berbuat sesuatu. Tanpa motif orang tidak akan berbuat sesuatu, motif dapat timbul dari dalam kebutuhan dasar manusia yang bersifat universal, tetapi dapat pula dirangsang dari luar. Sikap yang mendasar tingkah laku seseorang akan memberi warna terhadap pembuatan itu hingga pihak-pihak yang menerima hasil pelayanan akan merasa puas dan mempunyai kesan baik terhadap cara pelayanan yang diberikan. Hal ini berdampak positif terhadap organisasi dan pelaku langsung pelayanan pada organisasi itu.
      Ada beberapa pengertian pelayanan yang dikemukakan oleh para ahli menurut pandangan masing-masing. Beberapa defenisi pelayanan yang dikemukakan oleh para ahli tersebut adalah sebagai berikut : Menurut Kotler di dalam Fajar Laksana (2008: 85): Pelayanan adalah setiap tindakan atau kegiatan yang dapat ditawarkan oleh satu pihak kepada pihak lain, yang pada dasarnya tidak berwujud dan tidak mengakibatkan kepemilikan apapun. Produksinya dapat dikaitkan atau tidak dikaitkan pada satu produk fisik. Sementara menurut Bermen di dalam Fajar Laksana (2008: 85) mengemukakan bahwa: Komponen pelayanan dalam bisnis tidak dapat dipisahkan baik itu untuk perusahaan jasa maupun perusahaan dagang. Untuk perusahaan jasa, pelayanan ini sebagai produk yang berdiri sendiri, sedangkan pada perusahaan dagang dan industri sebagai produk tambahan yang selalu melekat pada produk utamanya.
      Menurut Gronross di dalam Bahrul K. (2009: 3), “....,perusahaan yang tidak mampu memberikan pelayanan yang lebih baik kepada konsumen akan kehilangan pasar dan produknya”. Dari pendapat para ahli diatas, dapat disimpulkan bahwa pelayanan merupakan suatu kegiatan yang tidak berwujud tetapi sangat berpengaruh pada perusahaan. Pelayanan ini lebih diidentikan dengan jasa. Karakteristik jasa menurut Kotler di dalam Fajar Laksana (2008: 85) yaitu: “Service have four major characteristics that greatly affect the design of marketing programs; intangibility, inseparability, variability, and perishability”.
      Jasa memiliki empat karakteristik utama yang mempengaruhi rancangan program pemasaran, yaitu : intangibility (tidak berwujud), Insenparability (tidak terpisahkan) variability (bervariasi) dan perishability (mudah lenyap). Konsumen merupakan faktor utama dalam pelayanan. Dalam hal ini yang dimaksud dengan konsumen yang mendapat manfaat adalah dari aktifitas yng dilakukan oleh petugas dan organisasi memberi pelayanan dengan kata lain pelayanan usaha apa saja yang mempertinggi kepuasan pelanggan. Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa pelayanan suatu bentuk kegiatan usaha yang memberikan kepuasan kepada konsumen agar dapat lebih senang dalam perolehan barang dan jasa dari seseorang organisasi atau lembaga. 
      Pada waktu-waktu tertentu pelayanan perlu ditambah sehingga dapat dipakai untuk memenuhi permintaan konsumen. Dalam pelayanan yang disebut konsumen adalah masyarakat yang mendapat manfaat dan aktifitas yang dilakukan oleh organisasi atau petugas dari organisasi pemberian pelayanan. Pelayanan juga dikatakan sebagai proses pemenuhan kebutuhan melalui aktivitas orang lain yang langsung baik barang meupun jasa. Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, manusia berusaha baik melalui aktivitas sendiri maupun secara tidak langsung melalui aktivitas orang lain. Aktivitas adalah suatu proses penggunaan alat, pikiran, panca indera dan anggota badan dengan atau tanpa alat bantu yang diperlukan oleh seseorang untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkan baik dalam bentuk barang aupun jasa.

Pengertian Koperasi Secara Umum

      Istilah koperasi menurut etimologi berasal dari bahasa Inggris, co = bersama, operation = usaha, koperasi berarti usaha bersama. Dilihat dari asal katanya, istilah koperasi (cooperative) bersumber dari kata co-operation yang artinya kerjasama. Ada juga yang mengartikan koperasi menolong satu sama lain (to help one another) atau saling bergandeng tangan (hand in hand), (Hendrojogi, 2004:25).
      Menurut Undang-undang Perkoperasian No. 25 tahun 1992 (1992:2), Koperasi didefinisikan sebagai: “Badan usaha yang beranggotakan orang seorang atau berbadan hukum koperasi, dengan melandaskan kegiatannya berdasarkan prinsip-prinsip Koperasi sekaligus sebagai gerakan ekonomi rakyat yang berdasarkan azas kekeluargaan”. Pengertian ini sesuai dengan apa yang tercantum dalam petunjuk organisasi kelembagaan koperasi Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Sumatera Utara (2007:6) tentang koperasi yakni: “Perkoperasian adalah Segala sesuatu yang menyangkut kehidupan koperasi. Gerakan Koperasi adalah keseluruhan organisasi Koperasi dan kegiatan perkoperasian yang bersifat terpadu menuju tercapainya cita-cita dan kesejahteraan bersama Koperasi”.
      Perkoperasian di Indonesia diatur dengan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1992 yang berlandaskan Pancasila dan UUD 1945, dan bertujuan memajukan kesejahteraan anggota pada khususnya dan masyarakat pada umumnya serta ikut membangun tatanan perekonomian nasional dalam rangka mewujudkan masyarakat yang maju, adil, dan makmur. Selanjutnya dalam UU No. 25 tahun 1992 Pasal 5 disebutkan prinsip koperasi, yaitu: 
  • Keanggotaan bersifat sukarela dan terbuka. 
  • Pengelolaan dilakukan secara demokratis. 
  • Pembagian Sisa Hasil Usaha (SHU) dilakukan secara adil sebanding dengan besarnya jasa usaha masing-masing anggota (andil anggota tersebut dalam koperasi). 
  • Pemberian balas jasa yang terbatas terhadap modal. 
  • Kemandirian. f. Pendidikan perkoperasian. 
  • Kerjasama antar koperasi.
      Selanjutnya dalam petunjuk organisasi kelembagaan koperasi ada beberapa hal pokok yang membedakan koperasi dengan badan usaha lain yang non koperasi. Hal tersebut antara lain adalah:
  1. Koperasi adalah kumpulan orang, bukan kumpulan modal sebagaimana perusahaan non koperasi.
  2. Kalau di dalam suatu badan usaha lain yang non koperasi, suara ditentukan oleh besarnya jumlah saham atau modal yang dimiliki oleh pemegang saham, dalam koperasi setiap anggota memiliki jumlah suara yang sama, yaitu satu orang mempunyai satu suara dan tidak bisa diwakilkan (one man one vote, by proxy).
  3.  Pada koperasi, anggota adalah pemilik sekaligus pelanggan (owner-user), oleh karena itu kegiatan usaha yang dijalankan oleh koperasi harus sesuai dan berkaitan dengan kepentingan atau kebutuhan ekonomi anggota. Hal yang demikian itu berbeda dengan badan usaha yang non koperasi. Pemegang saham tidak harus menjadi pelanggan. Badan usahanyapun tidak perlu harus memberikan atau melayani kepentingan ekonomi pemegang saham. 
  4. Tujuan badan usaha non koperasi pada umumnya adalah mengejar laba yang setinggi-tingginya. Sedangkan koperasi adalah memberikan manfaat pelayanan ekonomi yang sebaik-baiknya (benefit) bagi anggota. 
  5. Anggota koperasi memperoleh bagian dari sisa basil usaha sebanding dengan besarnya transaksi usaha masing-masing anggota kepada koperasinya, sedangkan pada badan usaha non koperasi, pemegang saham memperoleh bagian keuntungan sebanding dengan saham yang dimilikinya. Seseorang menjadi anggota koperasi didasarkan pada kesamaan kepentingan ekonomi dalam lingkup usaha koperasi (pasal 19 ayat 1 UU NO. 25/1992). Anggota koperasi adalah pemilik dan sekaligus pengguna jasa koperasi (pasal 17 ayat 1 UU NO. 25/1992), oleh karena itu anggota diharapkan berpartisipasi aktif dalam kegiatan koperasi.
      Dari penjelasan di atas memberikan gambaran bahwa koperasi memiliki ciri-ciriyang khas sebagai sebuah organisasi. Koperasi lahir dengan memiliki tiga unsur pokok yakni, (a) kerjasama dua orang atau lebih, (b) tujuan yang akan dicapai, (c) kegiatan yang dikoordinir secara sadar.
      Menurut UU No. 25 tahun 1992, alat perlengkapan organisasi koperasi terdiri dari :
1. Rapat Anggota
2. Pengurus
3. Pengawas
      Diantara ketiga alat perlengkapan organisasi tersebut, Rapat Anggota adalah pemegang kekuasaan tertinggi. Titik tolak keberadaan Rapat Anggota sebagai pemegang kekuasaan tertinggi adalah keberadaan lembaga ini sebagai satu-satunya lembaga formal yang mewadahi semua anggota koperasi sebagai sesama pemilik Melalui Rapat Anggota inilah semua anggota koperasi akan menggunakan hak suaranya sesuai dengan prinsip “satu orang satu suara”. Di dalam rapat anggota koperasi menetapkan; (1) Anggaran Dasar, (2) Kebijakan umum dibidang organisasi, manajemen dan usaha koperasi, (3) Pemilihan, pengangkatan, pemberhentian pengurus dan pengawas, (4) Rencana kerja, rencana anggaran pendapatan dan belanja koperasi serta pengesahan laporan keuangan, (5) Pengesahan pertanggungjawaban pengurus dalam melaksanakan tugasnya, (6) Pembagian sisa hasil usaha, (7) Penggabungan, peleburan, pembagian dan pembubaran.
      Koperasi di Indonesia pada umumnya berkelompok berdasarkan jenis anggotanya. Hal itu tidak hanya tampak pada penggolongan koperasi pada tingkat primer dan sekunder, tapi terutama sangat mencolok pada tingkat induk koperasi. Dalam implementasinya pada bidang usaha di indonesia, mengidentifikasi koperasi indonesia berdasarkan jenis anggotanya dapat dikelompokan menjadi: koperasi karyawan (Kopkar), koperasi pedagang pasar (Koppas), Koperasi angkatan darat (Primkopad), Koperasi mahasiswa (Kopma), Koperasi pegawai republik Indonesia (KPRI), Koperasi pondok pesantren (Koppontren), Koperasi peran serta wanita (Koperwan), Koperasi pramuka (Kopram) dan lain-lain.

Biaya Pemeliharaan

      Setiap aktifitas pemeliharaan yang dilakukan dalam suatu perusahaan baik terencana maupun yang dilakukan akibat timbulnya kerusakan akan menimbulkan biaya bagi perusahaan. Adapun biaya- biaya yang terdapat dalam kegiatan maintenance menurut Assauri (2004 : 98) adalah “biaya- biaya pengecekan, dan penyetelan, biaya service, biaya penyesuaian dan biaya perbaikan/ reparasi”.
       Berdasarkan komponen biaya di atas, maka biaya pemeliharaan tersebut dapat berupa biaya langsung (biaya komponen, tenaga kerja pemeliharaan) maupun biaya tidak langsung (biaya menganggur, biaya kehilangan kesempatan mendapatkan keuntungan dan lain- lain).

a. Biaya Langsung 
  1. Biaya tenaga kerja pemeliharaan. Tenaga yang melakukan pemeliharaan, baik perbaikan mesin atau fasilitas peralatan yang rusak maupun pada saat pemeliharaan pencegahan dibayar untuk melakukan pekerjaannya. Upah yang dibayarkan ini menjadi biaya tenaga kerja pemeliharaan.
  2. Biaya pembelian komponen penggantian. Adakalanya suatu komponen tidak dapat diperbaiki lagi tetapi harus diganti. Biaya pembeliannya merupakan biaya pembelian penggantian komponen. Jika ternyata komponen tersebut masih dapat diperbaiki maka yang dikeluarkan perusahaan hanyalah biaya untuk melakukan perbaikan kerusakan.
b. Biaya tidak langsung 
  1. Biaya tenaga kerja produksi (operator). Upah operator tetap akan dibayar oleh perusahaan walaupun tidak bekerja atau menganggur karena mesin sedang mendapatkan pemeliharan atau perbaikan kerusakan. 
  2. Depresiasi mesin atau fasilitas peralatan. Investasi tinggi untuk pembelian fasilitas peralatan akan menjadi elemen biaya depresiasi yang percuma apabila fasilitas peralatan tersebut mengalami kerusakan atau tidak dapat melakukan operasionalnya. Depresiasi (penyusutan) merupakan harga modal yang hilang pada suatu peralatan yang disebabkan oleh umur pemakaian. Guna menghitung besarnya biaya penyusutan perlu diketahui terlebih dahulu umur dari kegunaan suatu alat/ mesin yang bersangkutan dan nilai sisa pada batas akhir umur kegunaannya. Terdapat cara yang digunakan untuk menentukan biaya penyusutannya. Salah satu metoda yang digunakan adalah straight line method turunnya nilai modal dilakukan dengan pengurangan nilai penyusutan yang sama besarnya sepanjang umur kegunaan dari alat atau mesin tersebut. 
  3. Keuntungan yang tidak dapat diperoleh. Hal ini merupakan biaya tidak langsung berupa hilangnya kesempatan memperoleh keuntungan sesuai dengan yang direncanakan.
  4. Biaya administrasi dan biaya tidak langsung lainnya.

Tujuan dan Kegiatan Pemeliharaan

      Pelaksanaan pemeliharaan terhadap fasilitas peralatan kerja bertujuan untuk memberikan manfaat kepada perusahaan yang bergerak dalam bidang kontruksi. Menurut Assauri (2004: 95) tujuan pemeliharaan tersebut adalah:
  1. Mempertahankan kemampuan alat atau fasilitas peralatan guna memenuhi kebutuhan sesuai dengan target atau rencana produksi.
  2. Menjaga agar kualitas produk/ hasil kerja konstruksi berada pada tingkat yang diharapkan guna memenuhi apa yang dibutuhkan produk itu sendiri dan menjaga agar kegiatan produksi tidak mengalami gangguan.
  3. Untuk mengurangi pemakaian dan penyimpangan diluar batas dan menjaga modal yang diinvestasikan dalam perusahaan selama jangka waktu yang ditentukan sesuai dengan kebijaksanaan perusahaan.
  4.  Untuk mencapai tingkat biaya serendah mungkin, dengan melaksanakan kegiatan pemeliharaan secara efektif dan efesien secara keseluruhan. 
  5. Memperhatikan dan menghindari kegiatan- kegiatan operasi peralatan yang dapat membahayakan keselamatan kerja.
  6. Mengadakan suatu kerjasama yang erat dengan fungsi- fungsi utama lainnya dari suatu perusahaan dalam rangka untuk mencapai tujuan utama perusahaan yaitu tingkat keuntungan atau return of investment yang sebaik mungkin dari total biaya yang rendah. 
      Dalam upaya suatu perusahaan untuk mempertahankan kelancaran pelaksanaan kerja maka diperlukan beberapa kegiatan serta tindakan yang sangat erat hubungannya dengan pemeliharaan fasilitas peralatan. Menurut Assauri (2004 : 99) kegiatan atau aktifitas yang dimaksud adalah:
  1. Inspeksi (inspections) meliputi kegiatan pengecekan atau pemeriksaan secara berkala terhadap peralatan yang mengalami kerusakan dan membuat laporan- laporan dari hasil inspeksi tersebut.
  2. Kegiatan teknik, yaitu pengembangan peralatan atau komponen peralatan yang perlu diganti, serta melakukan penyelidikan terhadap kemungkinan pengembangan peralatan. 
  3. Kegiatan produksi, kegiatan ini merupakan kegiatan memperbaiki dan mereperasi mesin- mesin atau peralatan.
  4. Pekerjaan administrasi (clerical work), kegiatan ini berhubungan dengan pencatatan- pencatatan mengenai biaya- biaya yang terjadi dalam melakukan pekerjaan pemeliharaan serta penyusunan planning dan jadwal perbaikan peralatan.

Perencanaan Pemeliharaan

      Kelancaran dari kegiatan usaha suatu perusahaan akan terganggu apabila terjadi kerusakan- kerusakan dari fasilitas peralatan produksi. Kerusakan ini dapat disebabkan oleh kurangnya pemeliharaan pada peralatan tersebut sehingga kinerja dari peralatan itu tidak optimal dan produk yang dihasilkan berkualitas rendah, rusak ataupun peralatan sendiri rusak berat dan tidak berfungsi lagi dengan baik.
      Untuk menghindari terganggunya kontinuitas perusahaan maka dalam perencanaan perusahaan perlu diikut sertakan perencanaan terhadap pemeliharaan fasilitas peralatan produksi itu. Menurut Assauri (2004 : 103) hal- hal yang dapat menjelaskan betapa pentingnya perencanaan pemeliharaan fasilitas peralatan , yaitu: 
  1. Suatu perencanaan pemeliharaan meliputi usaha untuk menetapkan tujuan yang dipilih agar tercapai dengan baik sehingga perencanaan pemeliharaan dapat menunjang perencanaan produksi secara keseluruhan. Perencanaan pemeliharaan akan mengurangi atau menghilangkan sama sekali gangguan produksi , waktu produksi sesuai jadwal, mengurangi biaya produksi secara keseluruhan. 
  2. Memudahkan pelaksanaan kegiatan untuk mengidentifikasikan hambatan- hambatan yang timbul, yaitu berupa kerusakan- kerusakan yang mungkin timbul secara mendadak selama proses produksi atau pelaksanaan kerja konstruksi berjalan.

Pengertian Pemeliharaan

       Defenisi pemeliharaan menurut Handoko (2000:157) menjelaskan bahwa “pemeliharaan merupakan salah satu fungsi pelayanan penting dalam kegiatan – kegiatan produksi”.
       Selanjutnya menurut Harsono (1984 :147) mengemukakan bahwa: “Pemeliharaan merupakan aktifitas untuk memelihara atau menjaga fasilitas atau peralatan produksi dan mengadakan perbaikan atau penyesuaian/ penggantian yang diperlukan agas supaya terdapat suatu keadaan operasi produksi yang memuaskan sesuai dengan apa yang direncanakan”.
      Jadi, dari pengertian di atas dapat dipahami bahwa pemeliharaan merupakan suatu kegiatan yang dilakukan untuk mencegah terjadinya kerusakan atau terjadinya penurunan kinerja suatu peralatan atau fasilitas dan melakukan perbaikan apabila terjadi suatu kerusakan pada fasilitas peralatan.

Keterbatasan Pengendalian Internal

Jusup (2001:254-255) memaparkan bahwa keterbatasan bawaan yang melekat dalam setiap sistem pengendalian intern sebagai berikut : a. Kesalahan dalam pertimbangan. b. Kemacetan. c. Kolusi. d. Pelanggaran oleh manajemen. e. Biaya dan manfaat. Berdasarkan hal tersebut di atas dapat dijelaskan masing-masing komponen sebagai berikut: 1) Kesalahan dalam pertimbangan. Seringkali manajemen dan personel lain dapat salah dalam mempertimbangkan keputusan bisnis yang diambil atau dalam melaksanakan tugas rutin karena tidak memadainya informasi, keterbatasan waktu atau tekanan lain. 2) Kemacetan. Kemacetan dalam pengendalian yang telah berjalan bisa terjadi karena petugas salah mengerti tentang instruksi, atau melakukan kesalahan karena kecorobohan, kebingungan, atau kelelahan. Perpindahan personil sementara atau tetap, atau perubahan sistem atau prosedur bisa juga mengakibatkan kemacetan. 3) Kolusi. Tindakan bersama beberapa individu untuk tujuan kejahatan disebut dengan kolusi. Kolusi dapat mengakibatkan bobolnya pengendalian intern yang dibangun untuk melindungi kekayaan entitas dan tidak terungkapnya ketidak beresan atau tidak terdeteksinya kecurangan oleh sistem pengendalian intern yang dirancang. 4) Pelanggaran oleh manajemen. Manajemen dapat mengabaikan kebijakan atau prosedur yang telah ditetapkan untuk tujuan yang tidak sah seperti keuntungan pribadi manajer, penyajian kondisi keuangan yang berlebihan, atau kepatuhan semu. 5) Biaya dan manfaat. Biaya yang diperlukan untuk mengoperasikan struktur pengendalian intern tidak boleh melebihi manfaat yang diharapkan dari pengendalian intern tersebut. Karena pengukuran secara tepat baik biaya maupun manfaat biasanya tidak mungkin dilakukan, manajemen harus memperkirakan dan mempertimbangkan secara kuantitatif dan kualitatif dalam mengevaluasi biaya dan manfaat suatu struktur pengendalian intern. Karena adanya keterbatasan pengendalian internal, bahwa penerapan pengendalian internal bukan ditujukan untuk menghilangkan semua kemungkinan kecurangan dan kesalahan yang terjadi harus dapat diketahui dan diatasi secepatnya. Pengendalian internal tidak dapat dikatakan efektif meskipun disertai kehati-hatian dalam perancangan dan implementasinya, bahkan meskipun pegawai sistem dapat merancang sistem yang ideal efektivitas yang tergantung kepada kompetensi dan ketergantungan orang yang menggunakannya.

Tujuan Pengendalian Internal

Menurut Haryono (2001: 4) mengemukakan tujuh prinsip pengendalian internal yang pokok, yaitu:
  1. Penetapan tanggungjawab secara jelas.
  2. Penyelenggaraan pencatatan perusahaan.
  3. Pengasuransian kekayaan dan karyawan perusahaan
  4. Pemisahan peralatan dan penyimpanan aktiva.
  5. Pemisahan tanggungjawab atas transaksi yang berkaitan.
  6. Pelaksanaan pemeriksaan secara independen.
  7. Pemakaian peralatan mekanis bila memungkinkan.
Dari pendapat tersebut di atas, maka masing-masing tujuan dapat diuraikan sebagai berikut:
  1. Mengamankan harta perusahaan.
  2. Harta perusahaan perlu diamankan dari segala kemungkinan yang merugikan, kecurangan dan sebagainya. Dan untuk mengawasi kemungkinan tersebut, maka perlu dirancang berbagai metode dan cara-cara tertentu untuk mencegah terjadinya hal-hal di atas. 
  3. Menguji ketelitian dan kebenaran data akuntansi perusahaan. Catatan akuntansi harus terus-menerus diuji coba (internal check), agar kebenaran data akuntansi dapat di pertahankan. Untuk melaksanakan uji coba tersebut, maka perlu dipisahkan berbagai fungsi yang ada dalam struktur organisasi perusahaan terutama yang menyangkut transaksi keuangan.
  4. Meningkatkan efisiensi operasi perusahaan. Dengan menggunakan metode dan prosedur untuk mengendalikan pemeliharaan, yaitu dengan menyusun pengendalian, pemeriksaan intern akan menjadi alat yang efisien untuk mengendalikan pemeliharaan dengan tujuan akhir menciptakan efektifitas.
  5.  Ketaatan pada kebijaksanaan yang telah digariskan oleh pimpinan perusahaan. Kebijaksanaan pimpinan yang telah ditetapkan dengan surat keputusan, juga memerlukan berbagai aktivitas pengeluaran dan penerimaan dari pendapatan.
Dengan memperhatikan apa yang telah dikemukakan diatas mengenai tujuan pengendalian intern, maka dapat disimpulkan bahwa tujuan pengendalian intern bukan hanya merupakan prosedur untuk memeriksa dan menganalisa ketelitian data akuntansi, tetapi juga meliputi semua metode dan kebijakan yang digunakan perusahaan dalam mengendalikan jalannya operasional perusahaan agar dapat mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dilihat dari tujuan tersebut maka sistem pengendalian intern dapat dibagi menjadi dua yaitu pengendalian Intern Akuntansi (Preventive Controls) dan pengendalian intern administratif (Feedback Controls). Pengendalian intern akuntansi dibuat untuk mencegah terjadinya inefisiensi yang tujuannya adalah menjaga kekayaan perusahaan dan memeriksa keakuratan data akuntansi. Contoh: adanya pemisahan fungsi dan tanggung jawab antar unit organisasi. Pengendalian administratif dibuat untuk mendorong dilakukannya efisiensi dan mendorong dipatuhinya kebijakkan manajemen (dikerjakan setelah adanya pengendalian akuntansi) Contoh: pemeriksaan laporan untuk mencari penyimpangan yang ada, untuk kemudian diambil tindakan.

Pengertian Pengendalian Internal

          Pengendalian internal (internal control) diartikan oleh Sugiri (2000: 3) dalam dua pandangan yaitu: “Pandangan yang sempit menyatakan bahwa pengendalian internal adalah pengecekan penjumlahan, baik penjumlahan mendatar (cross footing) maupun penjumlahan menurun (footing). Pandangan yang luas menyatakan bahwa pengendalian internal lebih luas daripada pengecekan, yaitu meliputi semua alat yang digunakan manajemen untuk melakukan pengendalian (pengawasan). Menurut Jusup (2001: 252) pengendalian internal adalah: “suatu proses yang dijalankan oleh dewan komisaris manajemen dan personil lain yang dirancang untuk mendapatkan keyakinan yang memadai tentang pencapaian tujuan dalam hal- hal berikut:
  1. Keandalan pelaporan keuangan
  2. Kesesuaian dengan undang- undang dan peraturan yang berlaku.
  3. Efektifitas dan efesiensi operasi. Dinyatakan bahwa “pengendalian internal merupakan bagian dari masing- masing sistem yang dipergunakan sebagai prosedur dan pedoman pelaksanaan operasional perusahaan atau organisasi tertentu” (Haryono,2001:4).
          Sedangkan defenisi yang diberikan American Institute of Certified Public Accountants (AICPA) dalam Sugiri (2000:3) mengartikan bahwa: “Pengendalian Internal meliputi koordinasian struktur organisasi dan semua cara serta alat yang digunakan dalam perusahaan dengan tujuan untuk:
  1. Mengamankan harta perusahaan.
  2. Meningkatkan ketelitian dan dapat dipercayai data akuntansi.
  3. Meningkatkan efesiensi operasi dan
  4. Mendorong dipatuhinya kebijakan manajemen yang telah ditetapkan.
          Dapat disimpulkan bahwa pengendalian internal adalah suatu proses yang dipengaruhi oleh dewan direksi, manajemen dan personel lainnya yang dirancang untuk memberikan jaminan yang layak dalam pencapaian tujuan perusahaan.

Konsep Kepuasan Konsumen

        Dewasa ini perhatian terhadap kepuasan konsumen maupun ketidakpuasan konsumen telah semakin besar. Semakin banyak pihak yang menaruh perhatian terhadap hal ini. Pihak yang paling banyak berhubungan langsung dengan kepuasan dan ketidakpuasan konsumen adalah pemasar, konsumen, peneliti dan pengamat perilaku konsumen. Persaingan yang semakin ketat, dimana semakin banyak perusahaan yang terlibat langsung dalam pemenuhan kebutuhan dan keinginan konsumen, menyebabkan setiap perusahaan harus menempatkan orientasi mereka pada kepuasan konsumen sebagai fokus utama. Hal ini tercermin dari semakin banyaknya perusahaan yang menyatakan komitmennya terhadap kepuasan konsumen dalam pernyataan visi dan misinya melalui kegiatan promosi di media. Dewasa ini semakin diyakini bahwa kunci utama untuk memenangkan persaingan adalah dengan memberikan nilai dan kepuasan kepada konsumen melalui penyampaian produk dan jasa berkualitas dengan harga bersaing.
        Dengan semakin banyaknya perusahaan yang menawarkan produk berupa barang atau jasa, maka konsumen memiliki banyak pilihan terhadap produk yang ditawarkan tersebut. Dengan demikian kekuatan tawar-menawar konsumen terhadap salah satu jenis produk semakin besar. Sekarang mulai banyak kegiatan-kegiatan para konsumeris yang memperjuangkan hak-hak konsumen, etika bisnis, serta kesadaran dan kecintaan akan lingkungan. Para peneliti perilaku konsumen juga semakin banyak yang tertarik dan menekuni masalah consumer satisfaction dalam rangka mengupayakan solusi yang maksimal dari pemenuhan kepuasan para konsumen, yang bertindak sebagai pemakai produk berupa barang maupun jasa yang ditawarkan oleh produsen.
        Secara definitif, kepuasan konsumen dapat diterjemahkan dan dipahami berdasarkan pernyataan-pernyataan yang dikemukakan oleh beberapa tokoh pemasaran berikut ini : Menurut Philip Kotler (1996), “Kepuasan konsumen adalah perasaan senang atau kecewa seseorang yang muncul setelah membandingkan antara persepsi atau kesannya terhadap kinerja (atau hasil) suatu produk dan harapan-harapannya” (Kotler, 2002:42). Menurut Frederich Engel (1990), “Kepuasan konsumen merupakan evaluasi purna beli dimana alternatif yang di pilih sekurang-kurangnya sama atau melampaui harapan pelanggan, sedangkan ketidakpuasan timbul apabila hasil (outcome) tidak memenuhi harapan” (Tjiptono, 1997:24). Menurut Olson dan Dover (1979), “Kepuasan konsumen adalah sebuah kepercayaan setelah mencoba suatu produk, yang kemudian dijadikan sebagai standar untuk mengevaluasi performance suatu produk atau pengalaman-pengalaman yang akan datang” (Kartajaya, 2002:7).
        Dengan memahami berbagai definisi di atas, dapat ditarik sebuah simpulan bahwa pada dasarnya pengertian kepuasan konsumen mencakup perbedaan antara harapan dan kinerja atau hasil yang dirasakan.